Terkenang ketika masih duduk di bangku SMA, di sana kuperoleh dasar-dasar ilmu ke-komputer-an dan banyak hal yang berbau teknologi informasi. Saat ditanya oleh teman-teman, “Kamu mau melanjutkan kuliah di mana? Pasti di Jurusan Ilmu Komputer, kan?”. Ya! itulah obsesiku, menjadi seorang Sarjana Ilmu Komputer. Karena memang sejak kelas X, aku telah terdidik matang di salah satu ekstrakulikuler komputer, yang mana para anggotanya terbatas beberapa gelintir orang saja dan telah masuk seleksi. Pengalaman tentang Olimpiade Komputerku, walaupun hanya sampai tingkat propinsi, sudah sangat memacu motivasiku untuk mengasah lebih dalam saat aku kuliah nanti.
Tapi beberapa situasi berpendapat lain. Orang tuaku menginginkanku untuk menjadi Insinyur Bangunan atau sekarang namanya Sarjana Teknik Sipil. Anjuran kedua yaitu mengambil jurusan Sastra Inggris. Ditambah lagi, setelah lulus SMA dan melihat pendaftaran SPMB, ternyata banyak juga yang memilih jurusan Ilmu Komputer dan yang sejenisnya. Bahkan tingkat minatnya hampir di bawah Jurusan Kedokteran. Beberapa diantaranya dari kalangan siswa berprestasi. Karena kupikir banyak saingan, dan orang tua menginginkan hal yang lain, maka kuputuskan untuk mengambil Jurusan Sipil dan yang kedua adalah Industri. Yah, itung-itung meneruskan karir Ayah di dunia kontraktor dan penanganan perusahaan. Lagipula sedikit-sedikit aku ngerti pekerjaan yang akan aku lakukan kalau sudah bekerja. Kadangkala Ayah memberikanku tugas untuk membuatkan RAB Pembuatan Bagunan A, Pembuatan Jalan B, dan proyek-proyek sipil lainnya.
Ilmu ke-komputer-an sudah mengglobal dan merasuk ke dalam berbagai bidang. Hampir setiap jurusan pasti mempunyai mata kuliah komputer. Jadi, meskipun aku di Jurusan Teknik Sipil atau Industri, pasti deh tidak akan jauh dari benda ajaib yang dinamakan komputer ini.
Review E-Lifestyle
Oh iya, sekedar tambahan, pernah kulihat tayangan E-Lifestyle di MetroTV yang pada waktu itu membahas mengenai pendidikan IT Indonesia. Berikut ini kurang lebih reviewnya, tidak sama persis dan mungkin ada beberapa kesalahan (mohon dikoreksi).
Di sana hadir seorang praktisi IT (A) lulusan Teknik Industri yang bekerja membuat program dalam skala perusahaan. Dan yang kedua adalah seorang pakar IT (B) dan penulis buku komputer yang berasal dari ITB jurusan TI. Beberapa masalah diutarakan di sana. Pertama, dari banyaknya jurusan TI di tiap universitas, semisal Ilmu Komputer, Teknik Informatika, Sistem Infomasi, dan lain sebagainya, apa yang membedakan? Si B menjawab tidak terlalu jauh bedanya, baik di tiap jurusan itu sama-sama belajar komputer dan programming. Universitas seperti berjualan. Ini hanya untuk meningkatkan pasar mereka.
Masalah yang kedua, apakah pendidikan IT di Indonesia telah memberikan kontribusi yang baik bagi industri software Indonesia? Si A menjawab belum! Beliau berpendapat telah terjadi gap (jarak) yang cukup jauh antara industri / perusahaan software dengan para lulusan Teknik Informatika. Lantas, bagaimana cara menyelaraskan kemampuan para alumni IT dengan permintaan industri? Mereka harus mengambil studi khusus beberapa minggu / bulan, baru kemudian bisa terjun ke dunia industrinya.
Ini bukannya sama saja dengan alumni jurusan lain, atau bahkan yang tidak kuliah. Toh mereka akan mengambil studi khusus itu untuk terjun langsung ke dunia industri software. Bisa jadi ya, banyak dari mereka yang belajar komputer secara otodidak, kemampuan atau karirnya lebih baik dari yang belajar lewat universitas. Banyak juga yang dengan kursus beberapa minggu saja, kemampuannya tidak terlalu jauh dengan yang belajar beberapa tahun di universitas.
Jadi, apa yang perlu dibenahi. Si B menjawab dikarenakan terlalu banyak textbook dari pada ketrampilan. Artinya terlalu banyak teori yang membebani mereka para mahasiswa ketimbang segi prakteknya. Memang beberapa universitas ternama sudah baik, tapi ini seharusnya diikuti oleh beberapa universitas lainnya.